Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

PUISI JANJI BAKTI NEGERI

 -Janji Bakti Negeri- Karya Aisyah Ziyan Faradis Tujuh puluh lima tahun, merdeka negeriku Daku berkisah atas pertiwi Tumbuh dalam degup jantung Mengecap nan mendobrak relung hati Kian aortaku tak berkompromi Dengar ranah yang bergetar Sebab tempo lama Amblaskan anak negeri Reminisensi proklamasi Bertalun baurkan derek penuh aksi Untuk janji bakti negeri Demi ibu pertiwi Kibar merah putih nan senandung melodi “INDONESIA RAYA” Kusuarakan “Aku Putera Bangsa!” “Daku aset bangsa!” Apa yang bisa kau janjikan? Emas..? perak..? atau berlian..? Bukan-* Tapi vitalitas kobar juang Zamrud khatulistiwa Harga mati kupersembahkan Janji bakti kuberikan Aku, kau, dan kalian #INDONESIA Dirgahayu Republik Indonesia Nyala, abadi nan jaya Semangatmu* Semangatku* Untuk Indonesia #75_Tahun_Indonesia_Maju# Pasuruan, 17 Agustus 2020 Nb : Dilarang Plagiasi!!

PUISI MERINDU

Merindu Karya Aisyah Ziyan Faradis Sabtu ini Kuingin menuai cerita Kala desir angin beraroma cinta Merayau Sira yang kudamba Pikirku.. rindu sebeluntas candu Melihatmu saja suah deru Kala batin terpaku Temu, kuingin bertemu dalam hibuk rasianku Singkat saja!! luangkan waktumu mengingatku.. Tapi apa daya jarak mendinding cadaskan kalbumu Teruntukku yang cukup merindu akan dirimu Datanglah.. Pasuruan, 05 Juli 2020 Nb : Dilarang plagiasi!!!*

PUISI DATANG MINGGU

Datang Minggu Karya Aisyah Ziyan Faradis Cita itu anarkis Bisakah kiranya berkering? Gamitan dalam faal nan ilusi Kucari sejenak istirah Namun peri apakah yang menenggelamkanmu Alam sunyi, dalam hibuk kerja  Mimpi Tiada Katakan burung-burung pagi berkelana di putih raya Namun kota dibangun dari terik nan kilau murung matahari Sejenak mendongakkan kepala Minggu ini telah tiba Pasuruan, 22 Maret 2020 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI SENJA AKHIR TAHUN

Senja Akhir Tahun Karya Aisyah ZiyanFaradis Senja Mulai hilang Melalang, merubah isi tawa Waktu yang surut mulai merenggut Tak berkisah jatuh Namun ronanya mulai pendar Kala senja mulai berebut usia Lepas sudah gelapnya Penghujung titian akhir tawa Bangil, 31 Desember 2019 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI TERUK PARUKU

TERUK PARUKU Oleh Aisyah Ziyan Faradis Hijau menyebar Merimbun dalam asa Jatuh tak bernyawa Kepaknya mulai berkelana Tapi kemarau membuncah Satwa merontah Ingin dikawal Tangis tiap tawa Terpasung dalam tanah Hilang nyawa Ricuh Cumbu Tumbuh tiap sudut Cambuk bagiku Ulahmu! Cemarmu! Gersang paruku Teruk napasku Hamba dicemar Hamba dibuang Pohon tumbang melalang Akar mulai menghilang Lebur jadi arang Meringkuk terbujur awang Nyanyiku pilu tak berdendang Oh duniaku yang malang Pasuruan, 15 September 2019 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI SUMPAH SAKTI

SUMPAH SAKTI Karya Aisyah Ziyan Faradis Lagumu mencekam membara tiap asa Pamormu meredup tiap telan napas Retorika dimana-mana, minta keadilan… Bombardir jadi pacuan, lebur jadi arang Langkahmu seribu nyawa Semangatmu menggelora Merangkul jahitan luka Jangan jadi issu, jangan jadi lesu.. Sumpahmu bangkit jiwaku Frasamu bergetar Meraup duka lara Tulus sumpahmu tulus Janjimu… Sudah cukup banyak nyawa Sudah cukup banyak darah Untuk arti merdeka Pasuruan, 07 Oktober 2019 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI PINTAKU TERLINTANG DOSA

PINTAKU TERLINTANG DOSA Karya Aisyah Ziyan Faradis Jalinan kata menepis masa kelamku Cibiran, ujaran busuk laksana badai menggugah sela kalbu Apa daya lisan tak mampu berontak Tinta hitam tumbuh dalam separuh jiwaku Kegelapan menaungi kesepian yang semu Kemana kubuang raga nan jiwa ini Jika sinar tak datang…, apa yang kutuju… Ku tersisih dalam sorot irama-Mu Tolong hapuskan…, hapuskan dosaku… Haruskahku menghilang dalam sajak-Mu Haruskahku menunggu ajal penantian Ku tengadahkan tangan tanpa nyawa Tangisku tak bersuara Bulir air menyapu indraku Aku bak raga tanpa jiwa Taburan bintang menggulung senduku Hingga bayangan malam menjadi saksi bebanku Kepuasan dunia telah merobohkan imanku Hanya satu…, perkenankanlah pintaku… Jangan tiadakan doaku karena dosaku Sungguh lisan tak dapat bercakap Hanya mata hati meraba dalam ketukan doa Jika kata tak dapat menembus sisi-Mu Mungkin pintaku terlintang dosa Pasuruan, 17 Maret 2019 Nb: Dil...

PUISI PELITA NEGERI

Pelita Negeri Karya Aisyah Ziyan Faradis Pagi tadi… Surya menepis langkah kaki Bersama sepi yang memulung candu Rindu bagaikan debu kelabu Dingin mulai mengelupas inangku Nampak lalang ronamu Jerat rindu mulai terpatri Tergores dalam kertas putih Masih ada raut nafasmu Masih nampak ragamu Masih tampak senyummu Tapi sinar mulai lingsir Kau tunjuk, kau ajar tanpa lelah relung Tak sanggup lihat negeri remuk, hancur, nan lebur Tapi waktu membunuh denyut nadimu Menikam aortamu Kini kritis arahku, tanpamu Pelitaku hanyut, pelitaku padam Kemana kaki nankubawa Jika lagumu tak berirama Pasuruan, 28 November 2019 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI PADA DOA

Pada Doa Karya Aisyah Ziyan Faradis Mentari mulai lingsir Bergerak, retak tanpa jejak Menitih arah tanpa resah Mengigau sepintas nama kelam Pikirku bisu!!! Perihal insan yang tak ujung temu… Jiwa terpasung, merapal sajak doa Ingin ku ungkap!!! Tapi pilu merangkap, merusak, mendobrak jerat hasrat Ragaku lenyap tanpa sosokmu Sahabat…. Kau manusia penuh arti, kau hadir penuh misteri Nan senyummu yang kiat terpatri, dalam sanubari Cintamu suci penuh arti Tak hilang, tak bekas, tak lepas… Murni pintamu.. Pada doa kusampaikan jeritan kasih yang bisu Ikhlas yang pilu Rindu yang tulus masih meraup Muslim yang tulus masih menyahut Pasuruan, 06 Desember 2019 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI MATI

MATI Karya Aisyah Ziyan Faradis Sunyi Sepi penuh duri Harkat pacu sadar dengki Setapak Kaki kuberlari Coba memandang diri Deru derai hujan membasahi Menggulung petrikor timbun menanti Jelaga hitam mulai bersaksi Hilir mulai menarik sunyi Meringkus ambisi tak disaksi Kebatilan meraup diri Remuk redam menghampiri Aorta mulai menikam eulogi Bara api mengamuk!!! ingin di angkut!!! Kobar jeritan lirih Mati…, ingat mati… Dukaku tak lagi asri Dosa yang memaki, dosa yang menyelimuti Hancurkan!!! ratakan!!! batin penuh faksi Negeri mulai ngeri Negeri mulai perih Membentang tak bertepi Napas mulai tertatih tanda ingin mati Terpikat aroma surgawi Lebuk hati tak ada nurani Merampas, meringkuk jiwa murni Pasuruan, 06 Desember 2019 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI MADRASAH TERCINTA

MADRASAH TERCINTA karya Aisyah Ziyan Faradis      Semburat sang surya mulai menerpa sebuah bangunan hijau tua Puluhan tahun berdiri kokoh di atas bumi pertiwi demi menghancurkan sebuah kebodohan anak negeri Goresan prestasi selalu terukir di sepanjang masa Tawa yang terpancar dari anak negeri semakin menambah keelokannya Wahai mentari yang selalu membuka matanya Yang menjadi saksi bisu secercah cahaya suci masuk kepelosok penjuru bangunan itu Yah madrasah tercinta tempat terbentangnya segudang ilmu Bangunan tua ini menyimpan sejuta kenangan indah Terdapat jajaran para manusia mulia yang selalu menunjukkan arah yang benar Oh madrasahku kaulah tempat kumenimba ilmu Tak dapat kubayangkan jika perpisahan ini meninggalkan sebuah cerita yang mendalam Pasuruan, 29 Desember 2018 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI KOTA MATI

KOTA MATI Karya Aisyah Ziyan Faradis Dalam semesta galaksi-Mu Kau ciptakan sebuah dunia nyata indah nan elok Di tembok-tembok khatulistiwa-Mu terdapat sejuta angan bulir-bulir doa yang ditengadahkan Demi melihat sebuah metamorfosis Ketika Sang raja pagi mulai menenggelamkan suryanya dalam pelabuhan senja Pinta sebagai titik penghujung hidupnya Apa yang ditengadahkan…, apa yang dipinta… Yahhh…, tak lain sebuah revolusi Keheningan, kesunyian bersatu padu dalam larutan gelapnya malam Tiang-tiang lentera tak dapat ditegakkan Pilaran api mulai merobohkan imannya Angin telah menusuk, menerobos seluruh lautan penjuru jalan Hingga hanya tersisa purnama-Mu yang berkilau di atas petala langit Dinding-dindang ilmu mulai runtuh dalam kedipan mata Tangisan anak bangsa menggejolak bumi pertiwi, bak maraknya hiruk pikuk kekejaman dunia Tak ada lagi senyuman anak negeri Tak ada lagi sebuah titihan pencerah tuk merevolusi kota ini Kemana angan kita akan b...

PUISI KEMENANGAN

KEMENANGAN Karya Aisyah Ziyan Faradis  Suara gema peperangan terngiang di ujung telinga Semangat para pejuang ibu pertiwi menyentuh hati sang Ilahi Terlihat gagahnya para pemuda bak pilar yang berdiri dengan megahnya Maklumat persatuan nan kesatuan ia satu padukan hanya berlandaskan PANCASILA Teriakan saling sahut menyahut telah membakar sela jantung ini hingga ketitik darah penghabisan Hanya berbekal bambu runcing yang satu tusukannya bagai ribuan sayatan pedang menghempaskan seluruh jagat raya Hanya satu tekad yang ia tuju yakni kemenangan Kemena n gan sang ibu pertiwi Kemenangan para pemuda Indonesia Ribuan doa ia panjatkan Linangan air matanya menjadi saksi kekejaman dunia Hingga naungan kata merdeka menjadi awal peradaban negeri ini Pasuruan, 30 Desember 2018 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI DENTANG TIGA

~*_DENTANG TIGA_*~ Karya Aisyah Ziyan Faradis Malam binar paripurna, tunggu dentang riuh rendah. Tepat tiga Oktober seribu sembilan ratus empat puluh lima aparat bela tanah bangsa. Gugur tahun silam berkelana. Nir sekam pentung, dan peluru. Memberontak!!! pecah!! bakar kota Blitar!!! 14 Februari   terkenang album lawas ‘PETA’ sebutannya. Tinta, dan raung lapuk dengan gebuk. Tunggu kemunca pulang di simpang fajar. Melawan adalah kehormatan. Didengarkannya martir sebagai papor senjata. Bedil, borgol, dan debu jadi orkestra. Pukul tiga sudah Gurat di lembar tua Supriyadi hilang, Raib tetaskan berontak Fajar tiba, kenangnya kisah toea Pasuruan, 13 Februari 2020 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI BEKAS TANGAN

BEKAS TANGAN Karya Aisyah Ziyan Faradis Ketika raungan surya mendecak menabik gumpalan awan Semesta menyeruak mengisahkan memori tua Akar-akar mulai tersisih, tergelimang sayu yang ada Kicauan burung memporak-porandakan sukma Kuterjebak dalam jurang nestapa Menggiring, mendobrak, menjerat rindu yang ada Mendatangkan terpaan ambigu lama Genggamnya sungguh moksa Dalam sekejap bekas tangan mulai terkelupas masa Hilang.., masuk ke cengkeraman kalbu nyata Siapa lagaknya dia Ronahan wajah tak asing Senyum sungging terasa semu Suara lembut yang menggilas ragaku Yang mengobrak-abrikkan ribuan ambigu Inginku menyahut, menerobos lingkup jejakku Tapi apa daya… Tumpukan memori membelenggu otakku Romanmu bersemayam dalam peraduanku Memecah titik balik indraku Sepucuk lisanmu bahkan candu bagiku Hingga kutenggelam rayu bekas tanganmu Pasuruan, 07 April 2019 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI TAKUT

TAKUT Karya Aisyah Ziyan Faradis Dalam angan kuberlabuh dalam insan kumerindu Berjalan dalam kabut asa Hilang jejak cahaya Rupa bukan lagi rupa m ulai menua m ulai melayu Hilang paras merona Terseret dekap arus masa Takbir mulai berkelana m enyorak sudut petala Memecah hening purnama ‘ALLAHU AKBAR' sebutan Agung - Mu Mencengkeram semua makhluk m eluluhkan insan semu Untaian doa memberantas bulir indra Hingga rasa mulai menuju sukma Terbaur dalam tiap langkah m erubah tiap alur nyata Menghapus memori lama p enuh tumpukan dosa Takut.... Takut   terjerumus api neraka - Mu Takut semua dosaku Takut perbuatanku Luput dari salah luput dari lupa Tak ingin meninggalkan sebujur bangkai luka Yang tersimpan dalam lubuk nyata Pasuruan, 25 Oktober 2019 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI NAGARA BELANTARA

_NAGARA BELANTARA_ Karya Aisyah Ziyan Faradis Masih kuingat jelas, kuberi kalian sebagai napas Bisakah kiranya berkering, tanpa api dan abu Sudah!! Tidak jadi apa Ini dunia enggan disapa, dan hidup bukan hidup lagi Omong belaka!!! Jika akar tak merakyat, mati kau di relung hayat Kuseru saja dia, hapus hijau raya!! Biar belantara ngamuk, biar nagara runtuh Ada yang peduli??? Aku kau bakari!! aku kau tebangi!! Kini tetas pucuk belantara, rata tanah hampa Sunyi kiat bungkam asa nan rimba Hanya tinggal ranting, debu jelaga Pasuruan, 13 Januari 2020 Nb: Dilarang Plagiasi!!!

PUISI DARAH JUANGMU

DARAH JUANGMU Karya Aisyah Ziyan Faradis Alunanmu mulai mengulir, tersebar dalam penjuru hilir Hilang di kawah bulir Tertegun rasa menggulir Garis mulai berfase, zaman mulai membisu Langkahmu mulai melayu Nafasmu mulai melapuk Detakmu mulai memburu Sepi mulai mericu, melalang, menggoda sendu meluru Ribuan orang tergeletak sayu yang remuk Suasana semakin memicu Wahai pejuang negeriku… Begitu melekat darah juangmu Tekadmu menaung, menyahut sela jantungku Membakar titik juangku Seribu langkahmu tak goyah Seribu pesanmu tak punah Hingga matimu awal sejarah   negeriku Demi merdekanya bumi pertiwi Kau korbankan kau singkapkan lara yang ada Kini zaman mulai beradu Perjuanganmu mendayu lubuk hatiku Namun rasa juangmu tak mati, tetap terpatri Dalam sanubari. Pasuruan, 08 Agustus 2019 Nb: Dilarang Plagiasi!!!